Kangen

March 21st, 2012 § Leave a Comment

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta.
Kau tak akan mengerti segala lukaku
karena cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.

 

Malam Stanza Rendra

Hilir Segala Kelembutan

February 2nd, 2012 § 2 Comments

Manisku,
Tuhan berhutang satu kebahagiaan
untuk tiap tetes air kesedihan
dari matamu yang terbuang,
juga untuk tiap kebaikan
dalam do’a-do’a yang kau panjatkan.

Pudar

February 1st, 2012 § Leave a Comment

Manisku,
untuk segala yang datang
semua akan hanyut dan hilang.
Katakanlah dari hulu-hulu mana
mengalir wajah bak kembang,
karena seperti manisnya madu
manisnya tinggal kenang.

Tapi, di hilir hatiku
engkau tetap punya tempat
bak alang-alang yang tumbuh semakin lebat.

Surat Rindu Untuk Ibu

January 26th, 2012 § Leave a Comment

:Menemui ibundaku tercinta

Apa kabarmu, bu?

Sepertinya sudah sangat lama, kita tak berbincang di ruang keluarga, berbagi cerita tentang apa saja, walaupun kadang aku suka pura-pura tak mendengarkan, karena obrolannya selalu berakhir dengan ceramah-ceramahmu tentang pola hidupku yang tak teratur, mulai dari sering telat makan; tak menjaga kesehatan, dan jangan terlalu banyak pikiran. Namun, seiring usiaku yang bertambah, akhirnya aku menyadari, semua itu engkau lakukan tak lain karena kekhawatiran dirimu terhadap aku, rasa perhatian dan kasih sayangmu sebagai seorang ibu.

Ibu,

Maafkan anakmu yang belakangan ini lebih peduli kepada pekerjaannya ketimbang merawat dirimu. Menjaga memapah tubuhmu yang sudah mulai renta dimakan usia, mencabuti uban-uban di kepalamu yang bertambah, membasuh telapak kakimu yang wangi surga, menghabiskan akhir pekan bersamamu dengan secangkir air jahe hangat kesukaanku di beranda. Ah, betapa aku telah begitu banyak melewatkan sesuatu yang nantinya akan kurindukan.

Dari suaramu, yang kudengar di ujung telepon minggu kemarin, aku harap keadaanmu baik-baik saja, dan berada dalam lindungan-Nya. Meski aku tahu, kadang engkau berusaha menyembunyikan kecemasan-kecemasan yang sedang dirasakan, juga membohongiku mengenai kesehatan dirimu, agar aku tenang dalam menjalani kehidupan.

Ibuku tersayang,

Ada masanya aku memilih tak ingin menjadi dewasa, aku merindukan saat-saat engkau timang dulu, saat aku belum mengenal apa-apa, selain kasih sayang darimu saja. Tapi, aku sering mengingat, itu bukanlah sesuatu yang selalu kau ajarkan. Engkau yang selalu mengajarkan kepadaku tentang kehidupan; memelihara kesabaran, juga bagaimana menjalani hidup dengan kesederhanaan. Besar rasa terima kasih yang hendak kusampaikan padamu, bu. Karena telah menjadikan aku seorang laki-laki, yang tabah menghadapi permasalahan-permasalahan hidup yang cukup rumit ini, yang menempa hidupku agar tak gampang mengeluh. Terima kasih untuk setiap lafadz yang mendo’akanku di setiap malammu.

Aku berjanji akan lebih baik lagi dalam menjaga kesehatan, tidak lagi terlambat makan, untuk mengurangi kekhawatiranmu terhadap aku, dan berjanji akan lebih sering lagi meneleponmu, bu. Aku akan menjadi lelaki yang terus berjuang membahagiakanmu, membuatmu bangga mempunyai anak seorang aku.

Mungkin cuma ini saja, yang dapat aku sampaikan, karena sebetulnya kata-kata di surat ini rasanya belum cukup mewakilkan kerinduan yang aku rasakan. Namun percayalah, di hatiku, kau akan terus hidup dalam do’a yang tak henti-hentinya kupanjatkan.

Dari anakmu yang jauh

Rachman.

Palembang, 26 Januari 2012

Kepada Pemilik Senyum Terindah

January 25th, 2012 § Leave a Comment

unai:

Kutulis surat ini
ketika rindu menyergap pikiran
lewat nyanyian butir-butir hujan
dan udara yang membawa wangi tubuhmu.
Membuat bunga-bunga di hatiku yang taman
pucuk kesedihannya satu-satu berguguran.
Kepada pemilik senyum terindah,
aku cinta kepadamu!

Kutulis surat ini
ketika suara-suara tak dikenal bersiuran
lalu sepi dengan angkuhnya mempertanyakan
cinta yang siang malam kuperjuangkan.
Ia cemburu, mengapa cinta begitu memabukkan
serupa kanak bermain layang-layang
di sebuah padang hingga lupa pulang.
Kepada pemilik senyum terindah,
aku cinta kepadamu!

Aku mencintaimu.
Kau telah mengetahui itu:
*tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
daripada yang lain…
Laki-laki sederhana yang kau kenal kemarin
laki-laki yang akan kau jumpai esok lain
membawakanmu kehangatan di hari yang dingin.

Kau adalah gerimis di tanah gersangku
hinggap membasahi dahan-dahan di dadaku
menyusup celah-celah denyut jantungku
menjelma puisi yang tak henti-hentinya
senantiasa mendo’akan kehidupanku.
Kepada pemilik senyum terindah,
aku ingin kau menjadi istriku!

Kutulis surat ini
ketika rindu menyergap pikiran
ada harapan yang terbayangkan
wajah-wajah riang anak kecil berlari-larian
dan kita bersenda gurau di hijau pekarangan.
Kepada pemilik senyum terindah,
kuingin engkau
menjadi ibu anak-anakku!

Palembang, 25 Januari 2012
*Rendra

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.