Pukul sembilan lebih sepuluh pagi
Kau hadir di kepalaku lewat jendela
Menyelinap sebagai butir gerimis
Mengubah hangat menjadi kerinduan tanpa nama.

Pukul sembilan lebih lima belas pagi
Entah sudah melalui musim kesekian
Di dadaku, lelaki berbaju sepi
Asyik melipati nyeri yang berguguran.

Pukul sembilan lebih dua puluh pagi
Kau hadir menjadi udara
Menyergapi tubuhku dengan kecupan-kecupan
Lebih banyak dari biasanya.

Pukul sebelas lebih lima puluh tiga
Kira-kira bahagia itu seperti apa?
Sebab ada harapan yang terbayangkan
Wajah riang anak-anak kecil berlarian di pekarangan.

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta.
Kau tak akan mengerti segala lukaku
karena cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.

 

Malam Stanza Rendra

Manisku,
untuk segala yang datang
semua akan hanyut dan hilang.
Katakanlah dari hulu-hulu mana
mengalir wajah bak kembang,
karena seperti manisnya madu
manisnya tinggal kenang.

Tapi, di hilir hatiku
engkau tetap punya tempat
bak alang-alang yang tumbuh semakin lebat.

:Menemui ibundaku tercinta

Apa kabarmu, bu?

Sepertinya sudah sangat lama, kita tak berbincang di ruang keluarga, berbagi cerita tentang apa saja, walaupun kadang aku suka pura-pura tak mendengarkan, karena obrolannya selalu berakhir dengan ceramah-ceramahmu tentang pola hidupku yang tak teratur, mulai dari sering telat makan; tak menjaga kesehatan, dan jangan terlalu banyak pikiran. Namun, seiring usiaku yang bertambah, akhirnya aku menyadari, semua itu engkau lakukan tak lain karena kekhawatiran dirimu terhadap aku, rasa perhatian dan kasih sayangmu sebagai seorang ibu.

Ibu,

Maafkan anakmu yang belakangan ini lebih peduli kepada pekerjaannya ketimbang merawat dirimu. Menjaga memapah tubuhmu yang sudah mulai renta dimakan usia, mencabuti uban-uban di kepalamu yang bertambah, membasuh telapak kakimu yang wangi surga, menghabiskan akhir pekan bersamamu dengan secangkir air jahe hangat kesukaanku di beranda. Ah, betapa aku telah begitu banyak melewatkan sesuatu yang nantinya akan kurindukan.

Dari suaramu, yang kudengar di ujung telepon minggu kemarin, aku harap keadaanmu baik-baik saja, dan berada dalam lindungan-Nya. Meski aku tahu, kadang engkau berusaha menyembunyikan kecemasan-kecemasan yang sedang dirasakan, juga membohongiku mengenai kesehatan dirimu, agar aku tenang dalam menjalani kehidupan.

Ibuku tersayang,

Ada masanya aku memilih tak ingin menjadi dewasa, aku merindukan saat-saat engkau timang dulu, saat aku belum mengenal apa-apa, selain kasih sayang darimu saja. Tapi, aku sering mengingat, itu bukanlah sesuatu yang selalu kau ajarkan. Engkau yang selalu mengajarkan kepadaku tentang kehidupan; memelihara kesabaran, juga bagaimana menjalani hidup dengan kesederhanaan. Besar rasa terima kasih yang hendak kusampaikan padamu, bu. Karena telah menjadikan aku seorang laki-laki, yang tabah menghadapi permasalahan-permasalahan hidup yang cukup rumit ini, yang menempa hidupku agar tak gampang mengeluh. Terima kasih untuk setiap lafadz yang mendo’akanku di setiap malammu.

Aku berjanji akan lebih baik lagi dalam menjaga kesehatan, tidak lagi terlambat makan, untuk mengurangi kekhawatiranmu terhadap aku, dan berjanji akan lebih sering lagi meneleponmu, bu. Aku akan menjadi lelaki yang terus berjuang membahagiakanmu, membuatmu bangga mempunyai anak seorang aku.

Mungkin cuma ini saja, yang dapat aku sampaikan, karena sebetulnya kata-kata di surat ini rasanya belum cukup mewakilkan kerinduan yang aku rasakan. Namun percayalah, di hatiku, kau akan terus hidup dalam do’a yang tak henti-hentinya kupanjatkan.

Dari anakmu yang jauh

Rachman.

Palembang, 26 Januari 2012

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.