Hal Yang Kurindukan.

rrrrtttt…
rrrrtttt…

” But something happened
For the very first time with you
My heart melts into the ground
Found something true
And everyone’s looking round
Thinking I’m going crazy “

Sengaja kuselesaikan sampai bait ringtone yang dibawakan Sabrina itu, sebelum kuangkat telepon dari Fajar…
” Mitaaaaa… ”
Aku cekikikan tiap mendengar teriakan itu.
” ga usah cekikan kamu yah, selalu deh di nada tuut ke 6, baru kamu angkat telpon dari aku. ”
” apa sih Jar, abis maghrib gini udah marah-marah aja, cepet tua lho. ”
” udeh ga usah pake ceramah, udah siap belom? aku otw ke rumah kamu yah. ”
” loh, udah ga kaku lagi ngomongnya? gitu dong. ”
” errr, aku jitak ntar kamu yah. ”
” iya, aku udah siap bos! hahahha, sampai ketemu, Jar. ”

Fajar, ia pria humoris yang sudah 1 tahun ini menjadi teman dekatku sejauh ini. Entahlah, aku merasa nyaman saja bila ia ada di sampingku, meski kadang kehangatan yang tercipta tiba-tiba buyar saat aku tertawa lebar, mendengarkan kelucuan-kelucuan tentang apa saja yang ia ceritakan.

Aku tak memungkiri, aku juga termasuk wanita yang suka bercanda dan tak terlalu memilih dalam hal menentukan pasangan hidup apalagi menetapkan tipe-tipe tertentu. Kalau saja aku tak malu pada diriku dan memikirkan statement ” masa’ perempuan duluan yang nembak laki-laki? ” dari seorang teman kantor, pastilah sudah kuutarakan isi hati ini padamu dari dulu.

Malam ini Fajar berencana mengajak aku makan di luar, ada yang mau dibicarakan katanya. Tak seperti biasa, dari nada bicaranya tadi saat makan siang, tersirat ada sesuatu yang serius hendak disampaikannya.

” Mit, mmmm kamu nanti malam ada waktu ga? ”
” malam ini aku ga kemana-mana. ”
” mmm, duh a a a aku mau ngajak kamu makan di luar, bisa ga? ”
” iiihh, apaan sih kamu. kaku banget gitu, biasanya ngajak jalan ga begitu ngomongnya. ”
” ya udah, ntar abis sholat maghrib aku jemput yah, Mit. ”

****

Suara gas motor di luar rumah memecahkan lamunan. Segera aku memanut diri di depan cermin ruang tengah, sambil merapikan riasan, menutupi rona merah di wajah; malu-malu membayangkan Fajar ingin menyatakan cintanya padaku.

20 menit kemudian

” Kamu mau makan apa, Mit? ”
” mmm, nasi goreng aja deh, Jar.”
” mbak, pesen nasi goreng dua, telur dadarnya ganti telur mata sapi aja dua-duanya. Gak pake daun bawang sama bawang goreng. Minumnya air mineral yang gak dingin ya.”

Ahhh Fajar, selama 1 tahun ini ia telah mengetahui segala kebiasaanku, segala apa yang kusukai dan yang tidak kusukai. Kadang kami suka tertawa sendiri saat tiba-tiba ada banyak kebiasaan kami yang sama. Sekali lagi, Tuhan seperti menunjukkan dia adalah jodohku.

” eh Mit, kok putih telurnya gak dimakan? ”
” aku ga suka, Jar. ambil aja. ”
Sepertinya Fajar memperhatikan aku yang mengutak-atik telur mata sapiku dari tadi.
” Lah, kok sama ya? kalo aku, ga suka sama kuning telurnya. Nih buat kamu aja.”
” iiihh, kok sama sih, kok aku baru tahu sihh, Jar. ”
Habis dia kucubiti karena keterkejutanku akan kesukaan kami yang kembali sama, meski dalam versi yang berbeda. Di warung tenda itu, kami berdua tertawa saling tak percaya.

***

” Mit, besok aku berangkat ke Swiss.”
Aku tercekat saat ia mengatakan itu.

” aku diterima kerja di sana, di perusahaan yang aku pengenin selama ini, Mit. ”
Matanya berbinar saat ia menceritakan cita-cita yang diidam-idamkannya setelah tamat kuliah dulu, yang selalu ia ceritakan padaku, yang selama ini kuanggap angin lalu.

” ini cita-citaku, Mit. kamu tahu kan gimana aku ingin membahagiakan keluarga aku lebih dulu, aku ingin membeli rumah dari penghasilanku nanti, biar orang tuaku dan adik-adikku bisa kumpul lagi. ”

Dia dulu pernah bercerita tentang latar belakangnya, kondisi keluarganya, kondisi ekonominya, serta adik-adiknya. Tapi tanpa ia tahu, aku telah menerima segala kekurangannya itu, aku siap susah bersama-sama saat menikah nanti.

” karena itulah, Mit. mengapa aku belum terpikir untuk menikah dan menjalin hubungan dengan wanita manapun. ”

” Tapi Jar, aku kirain kamu mau… ”
tak berani aku meneruskan kalimat selanjutnya, perasaan kecewa bercampur sedih bergejolak di hatiku, dadaku sesak menahan kata-kata yang ingin segera kuungkapkan padanya, agar ia tahu bahwa aku sungguh mencintainya. Tak terasa air mata menetes perlahan, baru kali ini kurasakan begitu perih saat satu persatu bulirnya keluar dari mata mengaliri pipi. Dengan terisak, aku memegang tangannya dan mengucapkan selamat dengan penuh keterpaksaan.

” doa’in aku ya, Mit. ”
” iya Jar. ”

Aku selalu berdo’a untuk segala kebaikanmu, dari awal kita bertemu, dalam batinku.

***

Dan mulai besok, aku akan selalu mengingat kamu, di setiap kali memisahkan kuning telur mata sapi kesukaanku.

3 comments
  1. fevy09 said:

    Cerpen yang cukup singkat…
    Senang nulis cerpen juga ya?
    SAMA ^_^d

  2. dhebu said:

    bagus,,tp nanggung..malah pengen tau akhirnya,,hehe

    • Asop said:

      Justru yang seperti ini yang menjual.😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: