Kota (yang tak ber) Lautan Api

menemui kau, kota yang tadinya tak pernah terlintas di kepalaku:

sebelumnya izinkan aku, mengucapkan rasa terima kasih untuk kau, kota yang selama ini telah begitu baik memperlakukanku saat meninggali petak rumah yang berdiri di atas kau, juga untuk air yang sebelumnya aku dengar dari teman-temanku dulu begitu dingin menggigili badanku yang tak seberapa ini.

apa kabar kau?

terakhir aku mendengar kabar kau adalah dari berita di televisi, yang memperlihatkan betapa ringkihnya kau kini, jalan-jalan yang dulu lengang–enak untuk dilalui, sekarang lebih meyerupai pasar malam, dipenuh-sesaki orang-orang asing yang berjejalan. Udara-udara yang dulu bersih dan wangi, kini tak ubahnya seperti gumpalan angin-angin silir yang kepanasan.

Ah, sudah lama sekali rasanya kita tak bertegur sapa, atau sekedar berbincang di bawah langit kau yang jingga, bercerita tentang senja di kota siapa antara kita yang lebih indah, juga membandingkan orang-orang di kota siapa yang lebih baik hatinya. aku ingat saat pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota ini, dengan ramah, kau pertanya maksud kedatanganku, yang waktu itu mungkin terlihat limbung di matamu. Ya, waktu itu aku tergopoh-gopoh mencari keberadaan seseorang yang aku sayangi, yang setelah 7 tahun lamanya berpisah, akhirnya akan bertemu kembali. Raut wajah kau begitu antusias saat aku menanyakan di mana alamat seseorang yang kucari itu, kau seperti mencium kebahagiaan yang amat sangat dari sorot mataku, lalu kedua kakiku kau ajak menyusuri jalan-jalan hijau yang tertangkap di dalam pikiranku.

setengah jam berlalu, langit yang tadinya kau sulap menjadi cerah karena kedatanganku, perlahan berubah kelam seiring ceritaku yang masuk episode menyedihkan. Kau melanjutkan pertanyaanmu dengan air muka yang kini berbeda dari awal saat kita pertama jumpa, air mata kau perlahan menyelinap di balik mata-mata langit yang bergerak mengiringi perjalanan yang telah dinanti bukit-bukit besar di depan kita, yang dipenuhi pusara tempat peristirahatan terakhir jiwa-jiwa yang telah habis masa hidupnya. Dan, sesaat aku mengatakan bahwa orang yang kusayangi ada di antara salah satu pusara itu, suara kau sontak tercekat, anak-anak air mata kau keluar berjejalan, berhamburan, bersamaan dengan derasnya hujan yang turun dari awan-awan yang menaungi perjalanan kita sedari tadi.

Pada akhirnya, aku pamit meninggalkan kau yang masih berdiri melepas kepergianku di atas tanah basah yang seolah turut menggenangkan air mata duka. Dengan langkah berat, gontai aku menuju rumah tempat tinggal ayah, seseorang yang kusayangi, laki-laki yang kubanggakan dalam hidupku, seseorang yang mengajarkan tentang bagaimana menjadi seorang laki-laki tangguh, yang begitu mencintai ibuku, kini terbujur kaku di rumah pembaringan terakhir bernama Cikutra.

Sekarang, meski jauh jarak yang memisahkan, yang mampu kulakukan hanya terus berdo’a memohon kebaikan bagi ayahku kepada Tuhan, agar diberikan tempat terbaik di sisi-Nya, dan diampuni dosa-dosanya.

Kepada Bandung, aku menitipkan seorang ayah yang begitu kucintai, seorang lelaki yang senyumnya kini menjadi bagian dari liatnya tanahmu, udara di jalan-jalanmu, cahaya di antara langit-langitmu. Tetaplah menjadi kota yang dipenuhi kebaikan-kebaikan seperti pagi hari yang ada di pikiranku.

Palembang, 24 Januari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: