Waktu

Pukul sembilan lebih sepuluh pagi
Kau hadir di kepalaku lewat jendela
Menyelinap sebagai butir gerimis
Mengubah hangat menjadi kerinduan tanpa nama.

Pukul sembilan lebih lima belas pagi
Entah sudah melalui musim kesekian
Di dadaku, lelaki berbaju sepi
Asyik melipati nyeri yang berguguran.

Pukul sembilan lebih dua puluh pagi
Kau hadir menjadi udara
Menyergapi tubuhku dengan kecupan-kecupan
Lebih banyak dari biasanya.

Pukul sebelas lebih lima puluh tiga
Kira-kira bahagia itu seperti apa?
Sebab ada harapan yang terbayangkan
Wajah riang anak-anak kecil berlarian di pekarangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: